RANGKUMAN BAB 3
A.
Hukum ke
Nol Termodinamika
Konsep
temperatur, seperti halnya konsep gaya yang telah kita pelajari pada bab
sebelumnya, berasal dari persepsi dan interprestasi manusia terhadap gejala
alam yang diamati.Berdasarkan pengalaman sehari-hari,temperatur diidentifikasi
sebagai gejala yang berhubungan dengan
ukuran panas dan dingin suatu benda. Tubuh kita ibarat sensor alami yang dapat
membedakan tempertur benda.Hanya saja, tidak seperti termometer, tubuh kita
tidak dapat menunjukkan berapa besar temperatur yang suatu benda dalam skala
angka.
Seperti yang telah
anda pelajari pada bab kalor,jika dua benda yang memiliki temperatur berbeda
diinteraksikan satu sama alain, akan terjad perpindahan kalor yang efeknya bisa
kita deteksi dengan adanya perubahan temperatur. Jika benda-benda tersebut kita
biarkan cukup lama, benda-benda tersebut akan memiliki temperatur sama.
Secara Umum,Jika dua benda berada dalam kesetimbangan termal dengan benda ketiga maka benda ketiga tersebut juga berada dalam kestimbangan termal satu sama lain. Pernyataan tersebut dikenal dengan Hukum Ke Nol Termodinamika
TA= TB dan TB = TC, maka TA = TC
Secara Umum,Jika dua benda berada dalam kesetimbangan termal dengan benda ketiga maka benda ketiga tersebut juga berada dalam kestimbangan termal satu sama lain. Pernyataan tersebut dikenal dengan Hukum Ke Nol Termodinamika
TA= TB dan TB = TC, maka TA = TC
B.
Hukum I
Termodinamika
Mari kita tinjau beberapa contoh
terjadinya proses termodinamika.Misalnya terdapat gas di dalam suatu ruang
berbentuk silnder yang dilengkpi dengan piston pada bagian atas silinder. Gas
tersebut dikompres hinga mencapai tekanan yang maksimum. Tekanan maksimum
mengakibatkan volum gas minimum, sehingga jarak antar partikel gas menjadi
semakin kecil. Keadaan ini mengakibatkan peluang terjadinya benturan anatar
partikel akan semakin besar yang dapat menghasilkan panas.Sebaliknya, jika
volume gas diperbesar (dengan memperkecil tekanan tapa diberi kalor),Maka
temperatur gas akan turun,Peristiwa Ini Dirangkum Dalam Hukum I Termodinamika yang berbunyi:
“ Besar
perubahan kalor dalam sistem adalah sama dengan jumlah perubahan energi dalam
sistem dan kerja yang dilakukan”.
Secara Matematis,Bunyi dari hukum
I Termodinamika tersebut dapat ditulis
bentuk persamaan
∆Q = ∆U + W
Dengan:
∆Q = perubahan kalo dalam sistem.
Sistem melepaskan kalor → Negatif (-).
Sistem menerima kalor → positif (+).
Sistem melepaskan kalor → Negatif (-).
Sistem menerima kalor → positif (+).
∆U = perubahan energi
dalam sistem ( energi dalam )
Energi dalam sistem berkurang → negati (-) (jika suhu turun).
Energi dalam sistem bertambah → positif (+) (jika suhu bertambah).
Energi dalam sistem berkurang → negati (-) (jika suhu turun).
Energi dalam sistem bertambah → positif (+) (jika suhu bertambah).
W= kerja sistem.
Sistem menerima kerja → negatif (-) (biasanya dalam proses kompresi).
Sistem melakukan kerja → positif (+).
Sistem menerima kerja → negatif (-) (biasanya dalam proses kompresi).
Sistem melakukan kerja → positif (+).
C.
Kapasitas Panas Gas Ideal
Berdasarkan
Keadaan gas yang sedang dialaminya, maka kapasitas panas untuk gas ideal dapat
kita bedakan menjadi dua jenis, yaitu kapasitas
panas molar pada volume konstan yang dilambangkan dengan Cv dan kapasitas panas molar pada tekanan konstan yang
dilambangkan dengan Cp. Kedua kapasitas panas ini berbeda. Karna pada saat
volume konstan, sistem tidak melakukan kerja ( akan dibuktikan pada bahasan
selanjutnya) sehingga berdasarkan hukum termodinamiia pertama, besar perubahan
energi dalam sistem sama dengan besar kalor yang diterima sistem tersebut .
secara matematis berdasarkan persaamaan dapat kita tuliskan
W = 0 → ∆Q = ∆U + W = ∆U + 0
∆Q = ∆U
∆Q = ∆U
Hal
ini berbeda dengan kapasitas panas molar pada tekanan konstan. Apabila kalor
sistem ditambah disertai dengan terjadinya penambahan volume sistem,maka
tekanan dalam sistem akan konstan.
1.
Usaha Dalam Sistem Termodinamika
Penambahan
kalor menghasilkan terjadinnya usaha berupa terdorongya piston ke kanan. Kerja ini
merupakan kerja mekanik yang dapat dirumuskan dengan persamaan berikut.
W = FS = F ∆x
Dalam
kasus ini , ∆x adalah perpindahan piston dan F adalah besarnya gaya yang
bekerja pada piston. Jika diasumsikan luas piston adalah A dan ditekan oleh gas
P, maka Persamaan dapat dituliskan sebagai berikut
W = PA ∆x
Nilai
A∆x adalah perubahan volume gas ∆V
yang terjadi akibat perubahan kalor ( karena volume adalah luas alas dikalikan
tinggi),
∆V = A ∆x
Jadi,Persamaan
utuk kerja termodnamika adalah:
W = P ∆V
2.
Kapasitas kalor molar pada volume konstan
Jika jumlah mol gas adalah n mol, maka
setelah kalor mengalir, kalor gas bertambah sementara piston tetap diam dan
volume sistem konstan, maka besar peningkatan kalor sistem sebanding dengan
pertambahan suhu gas. Dengan kapasitas kalor molar pada volume konstan Cv dapat
kita definisikan sebagai:
∆Q=
NCv ∆T
Karena volume sistem konstan (∆V= 0 ) maka berarti dalam
hal ini sistem sedang tidak melakukan kerja, yaitu
W
= P X ∆ V = P X 0 = 0
Sehingga dari persamaa hukum termodinamika pertama,kita
peroleh bahwa besar kalo yang diterima sistem setara dengan perubahan energi
dalam sistem, yaitu:
∆Q
= ∆U
Jadi, Kalor luar yang diterima sistem digunakan
seluruhnya untuk merubah energi dalam sistem adalah.
∆U
= NCv ∆T
3.
Kapasitas kalor molar pada tekanan konstan
Kapasitas kalor molar pada tekanan
konstan dapat didefinisikan sebagai :
∆Q = NCp ∆T
Sebelumnya , diperkenalkan sebua Persamaan Umum Gas Ideal yaitu:
PV = nRT
Dengan:
P = tekanan gas
V = Volume gas
n = jumlah partikel
R = konstanta gas universal
T = temperatur